Sabtu, 25 Agustus 2012

Dunia dan Paragraf Ceritanya

messageofdaday.blogspot.com

Dia yang Maha, menugaskan rupa yang mirip wajahnya tinggal di dunia. Biarpun sebagian ada yang kekurangan, tapi yang lain bertugas melengkapi kekurangan itu. Maka lengkaplah inti makna kehidupan dari dan di dalam dunia.

Yakin demikian? Mustahil, Kawan.


Kata demi kata mulai tercipta, agar dunia seturut mau-NYA. Ah, munafiklah mereka yang hanya bertopeng belaka. Yang kutahu, mereka yang bertopeng itu hanya demi sebuah kata. "Pencitraan". Maka jadilah keadaan buruk yang sedemikian adanya, tanpa memandang janji Dia tadi. Perdamaian? Mati!

Cerita ini bahkan tak ingin kukenalkan cuma hanya bagi mereka yang merasa kedudukannya tinggi, tapi juga turut yang sejajar denganku. Status sosial? Hahah, persetan! Apa itu? Aku tak menganggap, biarpun sedikit banyaknya itu ada kulihat di sini dan di sana. Status sosial lebih parah dari dongeng, yang tentu ada tapi bisa bermakna. Status sosial itu maya, dan tak terhingga semunya.

Kuakui, tulisan ini cuma bacaan, tapi aku tak ingin pencitraan. Yang kuingin cuma sebatas kesadaran, bagi mereka yang terlalu menganggap dunia dan harta adalah segalanya. Sadarlah, semua kembali ke abu dan tanah. Seyogiyanya, dunia ini cuma meninggalkan cerita dan makna.

Bersama itu lebih beraroma, dan karakter adalah pemantapnya. Dia yang menitip kita ke sini cuma sebatas waktu, yang memang kita tak tahu. Batasan itu yang memisahkan kebersamaan kita di dunia ini. Maka dari itu, tak ada gunanya caci maki, kemunafikan, pembataian jiwa dan raga, juga kehinaan yang sangat kecil.

"Dunia adalah wadah, manusia adalah kuah, dan kebersamaan adalah racikan makanannya."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar