Ratusan malam sudah berlari, tanpa keraguan pasti mengingat rupamu di otak ini. Masih terasa kehangatan laku dan polamu, seakan itu masih hidup di keramaian hari. Namun sejenak kusadari, kau tak [akan pernah] lagi menjadi abadi di duniaku.
Haru? Iya. -- Rela? Iya. -- Tegar? Mungkin.
Membahagiakan kehidupan duniawimu belum sempat kucapai, karna waktu Dia yang datang membatasi kita. Segarlah kini kepahitan itu, jika yang kuingat hanyalah penyesalan berturut ke belakang. Yang ada, aku hanya bisa mencaci diri sendiri bila kuingat kehinaanku saat kau masih di dunia bergerak. Tapi aku yakin, maafmu kekal, entah itu biarpun kau sudah di keabadian. Kau masih seorang Bunda yang berhati permata dan emas.
Menjadi pembisik hati akan kemuliaan rupa tadi. Sejenak aku teringat mereka yang percaya keabadian berkata bahwa kenikmatan yang ada di telapak kakimu. Surga.
Akan kenikmatan itulah aku merenung, kudapati kembali kah? Atau hanya akan menjadi uapan sia-sia? Kupelajari makna ini sampai aku bisa mengerti di titik akhir. Tak peduli dengan perih dan caci, malah kucoba untuk membusungkan diri. Hingga sekilas aku sadar, dunia masih dapat untuk kujelajahi. Menjelajahi sampai ke akar masalah.
Bunda, terimalah bait-bait sederhana dari tulisanku, demi kebahagiaan kecil yang sulit untuk kucari akhir-akhir ini. Setidaknya, luka mengenang ini kucoba pelajari dan nikmati sampai aku tak lagi lirih.

:)
BalasHapus