Hai, apa kabarmu, Wanita hebatku dulu? Masihkah sibuk bergelut dengan dunia barumu? Atau masih sibuk bersajak indah dengan curahan tipuan belaka? Ah, mungkin cuma dalam makna parasmu sendiri yang bisa menjawabnya. Aku, ya hanya bisa sebatas coba menerka. Dan itu memang selalu.
Sejenak aku teringat masa indah dulu. Ya, yang kau dan aku "sebut" dengan kisah indah, walau hanya sebatas komunikasi saja. Tanpa tingkah lebih, kita mencoba menantang dunia yang sibuk dengan masalahnya, dan sedikit banyak kita berhasil melewatinya. Tapi, masih ingat janji "selamanya" itu? Hahaha.
Biarpun kini berdua kita coba menyepi, namun isi hati sendiri tak dapat kita coba dustai. Jangan hanya sesering jarum detik jam yang selalu berputar tanpa kenal lelah, meskipun hati bukanlah seperti mesin jam tadi. Biarpun masih membekas luka di hati, tak apalah untuk sesekali kita bercengkrama tanpa makna yang berlebih. Kuakui, itu sangat berguna.
Aku cuma tak mengerti, apa benak busuk atau indah yang ada di dalam hatimu saat ini. Susah jika yang kusimpulkan cuma dari omongan dan tingkah laku saja. Banyak manusia yang diijinkan hidup di dunia ini bertingkah baik dan adil, tapi hatinya tetap kerdil. Aku harap kau tidak demikian, meskipun ada sedikit tanda yang serupa.
Aku cuma lelah menanti yang tak pasti. Aku cuma manusia yang punya pandangan tak pasti, namun selalu mengharapkan hasil yang pasti. Tanpa cacat.
Ya sudah, cukup demikian kata manis untukmu. Di kali ini, aku mencoba untuk tidak munafik dan berdusta seperti yang kau coba lakukan akhir ini, setelah akhir kisah itu. Hanya si Maha Besar yang mungkin tau, tanpa Dia pandang ragu. Kelak, kurasa keadilan cinta bisa Dia beri kepada aku dan kau, Masa Lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar