Kamis, 06 September 2012

Catatan Bulu Kaki Seorang Mahasis[w]a

www.cheneyart.com

"Wee, besok Buk xxxxxx nggak bisa hadir, beliau sedang .........."

"Wee, besok Pak xxxxxx masuk jam xx, di ruang xxxx, .........."

Ah, hanya seorang penyuka sesama jenis yang selalu mengirimkan tutur pesan demikian, dan kadang membanjiri handphone jelekku. Seolah-olah dunia ingin cepat berputar kalau sang pengajar berhalangan mengajar, tapi dunia ingin rasanya diputar lambat jika sang pengajar berjanji untuk mengajar. Dunia perkampusan adalah game monopoli, atur sendiri, RASAKAN SENDIRI!

Apakah aku? Ya, aku adalah seorang mahasiswa.

Membawa SKS yang mereka katakan adalah "beban", dan memang pantas dinamakan demikian. Awalnya sebagai awam, pikiran ini bingung mendefenisikan "beban" tadi. Seiring berjalannya kaki, waktu, jam, atau apalah itu, perlahan kutemukan paradigma sederhana. "Semakin banyak SKS yang kau ambil, semakin terkutuklah bebanmu tadi."

Mungkin banyak yang mengira aku ingin menjelek-jelekkan seseorang, instansi, sosok pembawa ilmu, atau apalah makanya membuat alur cerita yang seperti ini. Tapi ketahuilah, sebenarnya aku ingin menjelek-jelekkan diriku sendiri. Angek? Weeeeekkk. :p

Dunia perkuliahan adalah pembentuk kepribadian, kata mereka yang belum punya kepribadian sebelum masuk kuliah. Dunia perkuliahan adalah jalan menuju cita-cita, kata mereka yang baru punya cita-cita setelah berkuliah. Banyak anggapan miring yang kadang bisa kupahami, atau malah kadang salah kuartikan sendiri untuk memahami sebuah kalimat seorang mahasiswa. Yang jelas, kesimpulanku bukanlah barang pasti, melainkan bisa mengundang kontroversi.

Diterima di universitas negeri adalah impianku sedari dulu. Karna terus terang saja, universitas negeri adalah simbol kebanggaan, dan peringan kebebanan orangtua. Meskipun bukan kampus negeri yang membahana, namun di sana aku tak begitu merana. Hanya goresan pena yang mungkin saja bisa menerangi jalanku ke dunia yang fana.

"Dua tahun pertama menjadi mahasiswa adalah kebanggaan, dua tahun setelahnya adalah kesengsaraan."

Kemampuan belajarku bukanlah sehebat kekuatan pikiran Einstein. Aku hanya mempelajari apa yang perlu dipelajari, dan mengambil hikmah sederhana saja dari sang pengajar yang sesekali bercurah hati. Karna, "nggak semua yang lo dengar itu benar."

Beberapa tahap telah terlewati, tinggal beberapa tahap lagi yang mungkin bertahap-tahap. Banyak dari antara temanku yang menjadi korban keganasan pengajar, korban membunuh karakter dan kemampuan sendiri, dan sekaligus korban cinta, yang membuat tolak ukur nilai menjadi kategori tak diharapkan. Intinya, bukan dinilai dari kemampuan saja yang menjadikan seseorang layak dinilai bodoh, itu kadang tak pantas. Yang mungkin sedikit pantas adalah "ketidakberuntungan".

Hmmm, beruntunglah ketidakberuntungan tadi belum merasuk dan merusak pribadi ini. Kalau tidak, susah untuk membayangkan rasa ketertinggalan. Yang ada, mungkin hanya sebuah penyesalan tak berkesudahan.

Seseorang lelaki penyuka sesama jenis pernah mendefenisikan diriku dalam dunia perkuliahan dalam satu kata, "datar". Sejenak, aku susah mengerti, tapi setelah kudalami, yang dia bilang mungkin bermakna dan berarti. Dan setelah beberapa kali kurenungi, yang dia simpulkan tadi sangat tepat, mengingat peran dan aktivitasku di perkuliahan memang cenderung tidak istimewa (datar). Mungkin, dengan ke-datar-an tadilah aku mau berusaha lagi menjadi ingin lebih menonjol, terlebih menonjolkan kemampuan demi sebuah pengabdian. Sejalannya waktu berganti, aku pun semakin menyetujui ukuran "datar" tadi di kehidupanku. Ya, dadaku memang datar.

Baiklah, mari kita akhiri diskusi sederhana yang susah berkesudahan ini. Tampaknya, aku ingin sekali menanti, membaca, dan menghayati postingan lainnya yang semateri dengan tulisanku ini. Kelak, membacanya pun bisa menjadi tolak ukur dalam berbagai motivasi.

NB: Kelak apabila dua tahun lagi aku bergelar sarjana, maka aku bukan lagi seorang mahasiswa, melainkan mantan mahasiswa. :)

3 komentar:

  1. Kalau tak mahasiswa lagi gimana? ehehehe maen-maen ya ke http://www.ceritamedan.com

    BalasHapus
  2. "Seseorang lelaki penyuka sesama jenis pernah mendefenisikan diriku dalam dunia perkuliahan dalam satu kata, "datar"."

    sedikit kontoversi tapi saya suka dengan tulisan anda... tapi pertanyaanku siapa lelaki penyuka sesama jenis itu.. wkwkw

    BalasHapus