Minggu, 18 November 2012

Mengharap Keabadian Ayah

hilmasol54.files.wordpress.com

Sedikit lelah upayamu hari ini, Ayah. Seperti yang sudah biasa kaubuat setiap hari, Rupiah demi Rupiah. Lelahkah kau, Ayah? Bosankah?

Sembari, kauluangkan waktumu sejenak untuk menghibur dirimu sendiri. Oh, maafkan kami (anak-anakmu) yang sampai sekarang masih susah menghiburmu. Sedikit tawamu saja sulit untuk kami tatap akhir ini, apalagi wajah riangmu. Secepat itukah kau tersakiti atas sebuah kehilangan, Ayah?