Minggu, 18 November 2012

Mengharap Keabadian Ayah

hilmasol54.files.wordpress.com

Sedikit lelah upayamu hari ini, Ayah. Seperti yang sudah biasa kaubuat setiap hari, Rupiah demi Rupiah. Lelahkah kau, Ayah? Bosankah?

Sembari, kauluangkan waktumu sejenak untuk menghibur dirimu sendiri. Oh, maafkan kami (anak-anakmu) yang sampai sekarang masih susah menghiburmu. Sedikit tawamu saja sulit untuk kami tatap akhir ini, apalagi wajah riangmu. Secepat itukah kau tersakiti atas sebuah kehilangan, Ayah?

Masih kuingat untaian masa kelammu dulu, saat kau masih berada di dunia yang cenderung hitam. Masa muda yang kaukatakan kauhabiskan dengan kegarangan, selayaknya “preman pasaran”. Banyak waktu berharga yang kau sia-siakan, dan indahnya dunia pun kau dapat dengan cara dan kesenanganmu sendiri. Ya, nista.

Selayaknya penerang jalan hidup dari dunia gelap, wanita yang kaucintai pun tergapai untuk hidup dan bernafas denganmu. Dia memang wanita hebat, mampu mengubah kenistaanmu dulu menjadi permata berharga untuk seorang kepala keluarga. Perlahan dia mampu mengubahmu. Tak peduli cibiran orang dan jutaan tetes air mata, dia memutihkan kehitamanmu. Istrimu itu memang luar biasa, Ayah.

Sekarang, dia telah lama dipanggil Pemiliknya. Meninggalkanmu, Ayah. Meninggalkan kita. Tapi hidup kita tak berhenti, masih banyak tikungan, masih banyak bara api, dan masih banyak tekanan duniawi yang harus kita jelajahi lagi. Sedikit, tak lengkap memang menjalani hidup ini tanpa dia. Mau tak mau, harus tanpa dia.

Perlahan kita sudah melewati jarak pemisah dari keberhasilan. Wajah relung kesedihan mampu kita hapus pelan-pelan, menuju secerca keceriaan. Ayah, sesungguhnya kita masih bisa bahagia hidup di dunia. Kenikmatan abadi yang nyata.

Sekarang, tak lebih yang kami anak-anakmu harapkan. Meskipun caramu membahagiakan kami tak sesempurna Bunda, setidaknya kami masih mempunyai seorang pencari nafkah. Nafkah raga dan nafkah jiwa.


.....

Ini kisah pendek sebuah keluarga dengan kebahagiaan yang sederhana. Bagaimana kehilangan menjadikan kerapuhan dari kekokohan. Bagaimana mereka yang ditinggal mencari sedikit senyuman, tanpa harus melupakan. Dan Ayah, hanya dia yang tersisa dari sosok kepemimpinan. Tulisan ini kubuat dengan harapan penuh, semoga keabadianmu masih panjang, Ayah.


Teruntuk Bapakku. Teriring doa dan cinta. 
St. J. Tambunan

1 komentar: