hilmasol54.files.wordpress.com
Sedikit lelah upayamu hari ini, Ayah. Seperti yang sudah
biasa kaubuat setiap hari, Rupiah demi Rupiah. Lelahkah kau, Ayah? Bosankah?
Sembari, kauluangkan waktumu sejenak untuk menghibur dirimu sendiri. Oh, maafkan kami (anak-anakmu) yang sampai sekarang masih susah menghiburmu. Sedikit tawamu saja sulit untuk kami tatap akhir ini, apalagi wajah riangmu. Secepat itukah kau tersakiti atas sebuah kehilangan, Ayah?
Masih kuingat untaian masa kelammu dulu, saat kau masih
berada di dunia yang cenderung hitam. Masa muda yang kaukatakan kauhabiskan dengan
kegarangan, selayaknya “preman pasaran”. Banyak waktu berharga yang kau
sia-siakan, dan indahnya dunia pun kau dapat dengan cara dan kesenanganmu
sendiri. Ya, nista.
Selayaknya penerang jalan hidup dari dunia gelap, wanita
yang kaucintai pun tergapai untuk hidup dan bernafas denganmu. Dia memang
wanita hebat, mampu mengubah kenistaanmu dulu menjadi permata berharga untuk
seorang kepala keluarga. Perlahan dia mampu mengubahmu. Tak peduli cibiran orang dan jutaan tetes air mata, dia memutihkan kehitamanmu. Istrimu
itu memang luar biasa, Ayah.
Sekarang, dia telah lama dipanggil Pemiliknya.
Meninggalkanmu, Ayah. Meninggalkan kita. Tapi hidup kita tak berhenti, masih
banyak tikungan, masih banyak bara api, dan masih banyak tekanan duniawi yang
harus kita jelajahi lagi. Sedikit, tak lengkap memang menjalani hidup ini tanpa
dia. Mau tak mau, harus tanpa dia.
Perlahan kita sudah melewati jarak pemisah dari keberhasilan.
Wajah relung kesedihan mampu kita hapus pelan-pelan, menuju secerca keceriaan.
Ayah, sesungguhnya kita masih bisa bahagia hidup di dunia. Kenikmatan abadi
yang nyata.
Sekarang, tak lebih yang kami anak-anakmu harapkan. Meskipun
caramu membahagiakan kami tak sesempurna Bunda, setidaknya kami masih mempunyai
seorang pencari nafkah. Nafkah raga dan nafkah jiwa.
.....
Ini kisah pendek sebuah keluarga dengan kebahagiaan yang
sederhana. Bagaimana kehilangan menjadikan kerapuhan dari kekokohan. Bagaimana
mereka yang ditinggal mencari sedikit senyuman, tanpa harus melupakan. Dan Ayah, hanya dia yang tersisa dari sosok kepemimpinan. Tulisan ini kubuat dengan
harapan penuh, semoga keabadianmu masih panjang, Ayah.
Teruntuk Bapakku. Teriring doa dan cinta.
St. J. Tambunan

Semangat bg joo. :)
BalasHapus