flickr.com/photos/3dphoto/802509501/
Sore gemilang, sesempat mungkin kulangkahkan kecepatan lari
kaki ini. Ah, menghitung-hitung usiaku yang tak mungkin lagi muda kembali. Dan
para tetangga yang penuh canda dan ceria ini setia menemaniku. Mungkin ini hiburan
terakhirku bersama mereka.
Malam senyap, kunampak si anak sibuk dengan urusannya
sendiri. Si perempuan, mungkin di masa kasmarannya. Biarlah telepon genggam itu
yang jadi sahabatnya. Si laki-laki, tampaknya sama. Bedanya mungkin dia sudah
punya sedikit janji di malam Minggu ini. Maklum, mungkin pacarnya yang tak
pernah kutahu identitasnya itu mengajaknya beradu asmara di malam ini. Hmmmmm,
kucoba memancing kesetiaanya.
“Nak,” aku memanggil anakku si laki-laki. “Ayo cari makan di luar. Kita bertiga bersama adik.” Maklum, sedikit semangatku hilang di hari terakhir ini untuk menghidangkan makanan di rumah.
“Ah, nggak bisa, Bu. Aku ada janji dengan teman. Lain kali
saja.”
Hahaha! Tebakanku benar. Sangat benar. Biarlah sedikit kuikhlaskan dia dan
asmaranya malam ini. Aku hanya Ibunya, hampir 20 tahun kami bersama terus.
Kekasihnya, mungkin mereka bersama masih seumuran jagung. Jadi, terang saja dia
sudah bosan denganku.
Beberapa jam lagi aku melambung. Masih banyak yang harus
kubenahi, masih banyak yang harus kusadari. Apa mampuku, aku hanya menumpang di
dunia yang sekarang kuanggap kecil ini. Menapak dosa, terus melakukannya, hingga sampai tahap menyesal di akhir. Andai Tuhan nyata dan hidup di dunia ini, pasti yang ada tak akan menjadi tiada.
Ini gambaranku di malam terakhir dunia saat itu. Di mana kesetiaan masih sedikit membekas di hati, tapi kuyakin, mereka semua mencintaiku. Keluarga, ini yang kucemaskan kala Tuhan sudah menetapkan waktuku tiba.
Mengenang Seorang Wanita Paruh Baya...

bang jooooo :'(
BalasHapus