Sabtu, 19 Januari 2013

Mimpi Maksiat

gothicginobili.com

Aku datang dan melangkahkan kaki ke tempat itu, di mana yang mereka katakan bahwa seluruh umat nista mendambakan dan menginginkannya. Suram memang, kenyataan yang harus kuhadapi sekarang bertentangan dengan kemauan dunia. Di sana, aku juga berjumpa dengan banyak teman yang lain. Wajah mereka berhiaskan suka, namun sedikit dipendam balutan murka.

Kami berpesta hingga larut, di mana banyak kesuraman menjadi bahan tawaan semata, lupa mengingat ilham dunia dan Tuhan-nya. Arie, salah satu temanku yang sangat aktif di malam itu. Dia mabuk, hawa mulutnya penuh dengan bau busuk. Dia melupakan tugasnya di kampus, dan kewajibannya sebagai orang anak yang utuh satu atap dengan orang tua. Masih dibutuhkan oleh orang tua untuk membantu mendapatkan nafkah, dia sedikit terlupa akan kewajiban terpuji itu. Seolah-olah, malam itu dia hidup jauh dari jangkauan sang Ibu yang berstatus orangtua tunggal. Arie memang salah satu temanku yang masih tinggal dengan orangtua, berbeda dengan teman lain yang berstatus anak perantauan demi dunia perkuliahan.
            
Kutinggalkan Arie dan beberapa botol minumannya sekelak. Di beberapa langkah, aku melihat Armand menghisap puntung berasap. Sekelak, aku memang bukan perokok. Namun, sering keadaan sekitar memaksaku untuk menjadi perokok yang pasif, mengingat teman-teman hina di sekelilingku yang berstatus aktif. Kali ini, aroma asap yang dihembuskan Armand lain dari yang biasanya. Lebih menyengat, menyesakkan, dan tajam luar biasa. Armand bisa menghisap batang itu dengan cepat dan dia sangat dalam merasakannya. Aku saja sesak, dia malah ketagihan.

“Man,” suaraku memanggil. “Aneh aroma asapmu hari ini. Tak seperti biasanya.”

Memang, Armand salah seorang dari temanku yang merupakan perokok berat. Namun, ada kejanggalan dari bau asap yang dia hisap kali ini. Semula, pikiran sederhana ini cuma menganggap Armand menghisap puntung rokok dengan tembakau racikan sendiri. Armand seperti orang sinting. Dia hanya bisa memandangku lewat matanya yang kali ini sayu. Tak satu pun pertanyaanku bisa dia jawab. Dia hanya terbaring di sofa, dan satu per satu teman tongkrongannya mulai beranjak. Namun, dalam beberapa kesempatanku bertanya pada makhluk nista lainnya di sekeliling Armand, jawaban asli pun kutemukan tentang apa yang baru dihisap oleh Armand. Ganja.
            
“Oh Tuhan, maafkan mulut Armand malam ini,” gumamku dalam hati.
            
Kutinggalkan Armand dengan mengetuk kepalanya dahulu sebelum aku beranjak dari situ. Di sekeliling, masih banyak kenistaan lain yang kudapatkan. Mulai dari transaksi barang haram, para pria dengan tangan-tangannya yang menggerogoti badan wanita malam, hingga pria yang menyukai pria seperti yang kulihat saat ini pada temanku Ayub. Ah, tingkah Ayub kali ini kurasa lebih menjijikkan daripada teman-temanku yang sebelumnya. Sangat kelewat batas. Bahasa tubuh Ayub menunjukkan keemosionalan seksualnya selama ini. Belaian tangannya, hingga goyangan tubuhnya tampak beralur mesra dengan lelaki lainnya yang sejenis. Tak cuma itu, mereka lihai memainkan mulut dengan irama yang garang.
            
Tingkah Ayub benar-benar membuatku sangat muak malam ini. Mungkin ini puncak emosiku. Tapi entah kenapa, amarah yang sudah sangat mengumpul di dalam diriku rasanya sangat sulit untuk kulampiaskan di tempat ini. Tidak seperti biasanya, aku sangat gampang mengeluarkan kata-kata kasar, memukul dinding yang ada di sekitar, hingga menendang perabotan kayu saat tidak bisa lagi membendung amarah.
            
“Tempat ini aneh, bukan seperti nyata. Bagaimana mungkin rasanya aku ingin melakukan sesuatu tapi aku tidak bisa mewujudkannya? Rasanya tubuh ini seperti tidak bisa melakukan apa yang pikiranku perintahkan,” lagi-lagi aku hanya bisa berkata-kata di dalam hati.
            
Entah apa yang sebenarnya terjadi. Aku susah menebak. Arie, Armand, dan Ayub, mereka semua teman terdekatku. Memang tidak semua hal-hal busuk di dalam diri mereka aku tahu, karna kami hanya laki-laki yang sangat jarang mencurahkan isi hati satu sama lain. Kedekatan kami hanya sebagai batas berbagi pengalaman, keriangan, canda, serta hal-hal biasa lainnya yang dilakukan anak-anak muda di masanya. Sangat jarang aroma cerita yang sering kami bagi adalah masalah-masalah pribadi seperti keluarga, pacar, lingkungan bersosial, serta lainnya yang sejenis. Itulah wujud nyata yang memang sering ada pada persahabatan anak laki-laki pada masa ini.
            
Terlepas dari semuanya, pelan-pelan aku beranjak pergi dari tempat maksiat itu. Kulangkahkan kaki dengan pikiran yang masih bergelut akan keanehan-keanehan yang terjadi antara aku dan teman-teman terbaikku. Aku juga bingung, bagaimana mungkin kami yang selalu bersama kali ini hanya aku seorang yang terpisah. Perjalanan pulangku sangat dipenuhi misteri yang semoga tak urung menjadi abadi.
            
Keanehan kembali terjadi dalam kepulanganku. Seketika, cahaya dalam perjalanan yang tadinya agak gelap, kini menjadi terang. Sangat terang. Aku yang tadinya berada dalam posisi berdiri dan menggerakkan kaki, kini hanya terbaring. Mataku terbuka pelan-pelan, dan betapa terkejutnya hatiku saat yang kuperhatikan di sekitar hanyalah hiasan dinding yang dipenuhi poster-poster pemain sepakbola mancanegara dan musisi dunia. Ah, terkutuklah aku. Apa yang kulihat tadi semu, tidak nyata dan benar. Yang kualami tadi hanya bunga penghias tidur seorang manusia pada umumnya. Namun, anggapan penghias kali ini tidak mudah untuk kuterima begitu saja. Untuk cerita tadi, sangat cocok untuk kuberi judul “Bunga Bangkai Perusak Tidur”. Hahahahahaa!
            
Ini hari pertamaku di perkuliahan setelah libur panjang akhir semester. Ah, tak sabar rasanya aku ingin bertemu teman-teman kampus setelah hampir dua bulan lamanya kami ditelan rindu. Segera dan bergegas, aku mempersiapkan diri untuk menuju ke kampus dan melupakan mimpi tadi.
            
Setibanya di sana, langsung saja aku bertemu dengan keempat teman-teman terbaikku tadi. Kami saling melepas rindu, bercerita, tertawa. Deretan kursi di belakang kelas yang jadi saksinya.
            
“Woi!”, kata Ayub. “Aku mimpi aneh tadi pagi. Aneh sekali pokoknya.”
            
“Udah, langsung ceritakan. Aku juga punya mimpi aneh tadi,” Arie membalas.
            
Seketika juga aku dan Armand saling bergantian mengatakan bahwa kami punya mimpi aneh. Memang persahabatan kami kali ini terasa. Satu untuk semua, semua untuk satu.
            
Ayub memulai, “Tadi malam aku mimpi berada di sebuah klub malam. Dan yang lebih anehnya, aku jadi penyuka sesama jenis, alias homo. Aku bermesraan dengan seorang pria, berciuman, dan sampai ke tahap yang lebih intim lagi. Entah kenapa aku bisa mendapatkan mimpi yang semacam itu. Mengerikan.”
            
Tanpa ada seorang pun yang menanggapi, Arie langsung saja membalas. “Aku juga tadi bermimpi di klub malam. Tapi yang kulakukan bukan ber-homo ria seperti kau, Yub! Kali ini lebih professional. Aku menenggak bir “Topi Miring” hingga satu botol. Entah apa yang buat aku kuat meminumnnya, padahal biasanya segelas saja kepalaku seperti sudah mau pecah,” Arie mengakhiri ceritanya.
            
“Profesional dari mana, Blekok?”, Armand menyahut. “Asal kalian tahu saja, mimpiku juga sama tempatnya seperti yang kalian bilang barusan. Tapi ulahku kali ini aneh, aku menghisap ganja. Mungkin karna rindu kampung halamanku yang di Aceh, makanya aku bisa bermimpi seperti itu. Hahahahaa!”
            
Entah apa yang terjadi. Semua yang mereka katakan kembali merusak pola pikir ini. Dan mimpi mereka bisa sama persis dengan penglihatanku di mimpi tadi malam juga. Harapan kecil di hatiku timbul, semoga mimpi kali ini bukanlah pertanda buruk di kehidupan nyata kami. Semoga saja itu hanya terbatas di alam ketidaksadaran kami, tanpa sedikitpun merusak alam kesadaran kami yang kali ini tidak semu. Mungkin karna aku terlalu merasakan kedalaman arti persahabatan, aku bisa melihat mimpi dari teman-temanku katakan. Memang kebersamaan kami selama ini sangat berarti. Tanpa memandang perbedaan asal, suku, maupun agama, kami bisa merasakan kebersamaan pertemanan yang tiada bandingnya.
            
“Mimpimu apa?”, seru Armand kepadaku.
            
Ucapanku sambil memangku senyum, “Aku melihat kalian semua.”
            
Pembicaraan kami terhenti. Dosen memasuki kelas. Seketika kami membubarkan diri, pun begitu dengan teman-teman sekelas lainnya yang dari tadi duduk tidak beraturan demi memuaskan keinginan berbagi pengalaman selama masa liburan.

Mengenang Dalamnya Arti Persahabatan
Medan, 19 Januari 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar