gothicginobili.com
Aku datang dan
melangkahkan kaki ke tempat itu, di mana yang mereka katakan bahwa seluruh umat
nista mendambakan dan menginginkannya. Suram memang, kenyataan yang harus
kuhadapi sekarang bertentangan dengan kemauan dunia. Di sana, aku juga berjumpa
dengan banyak teman yang lain. Wajah mereka berhiaskan suka, namun sedikit
dipendam balutan murka.
Kami berpesta hingga larut, di mana
banyak kesuraman menjadi bahan tawaan semata, lupa mengingat ilham dunia dan
Tuhan-nya. Arie, salah satu temanku yang sangat aktif di malam itu. Dia mabuk,
hawa mulutnya penuh dengan bau busuk. Dia melupakan tugasnya di kampus, dan
kewajibannya sebagai orang anak yang utuh satu atap dengan orang tua. Masih
dibutuhkan oleh orang tua untuk membantu mendapatkan nafkah, dia sedikit
terlupa akan kewajiban terpuji itu. Seolah-olah, malam itu dia hidup jauh dari
jangkauan sang Ibu yang berstatus orangtua tunggal. Arie memang salah satu
temanku yang masih tinggal dengan orangtua, berbeda dengan teman lain yang
berstatus anak perantauan demi dunia perkuliahan.
Kutinggalkan Arie dan beberapa botol
minumannya sekelak. Di beberapa langkah, aku melihat Armand menghisap puntung
berasap. Sekelak, aku memang bukan perokok. Namun, sering keadaan sekitar
memaksaku untuk menjadi perokok yang pasif, mengingat teman-teman hina di
sekelilingku yang berstatus aktif. Kali ini, aroma asap yang dihembuskan Armand
lain dari yang biasanya. Lebih menyengat, menyesakkan, dan tajam luar biasa. Armand
bisa menghisap batang itu dengan cepat dan dia sangat dalam merasakannya. Aku
saja sesak, dia malah ketagihan.
“Man,” suaraku memanggil. “Aneh
aroma asapmu hari ini. Tak seperti biasanya.”
Memang, Armand salah seorang dari temanku yang merupakan perokok berat. Namun, ada kejanggalan dari bau asap yang dia hisap kali ini. Semula, pikiran sederhana ini cuma menganggap Armand menghisap puntung rokok dengan tembakau racikan sendiri. Armand seperti orang sinting. Dia hanya bisa memandangku lewat matanya yang kali ini sayu. Tak satu pun pertanyaanku bisa dia jawab. Dia hanya terbaring di sofa, dan satu per satu teman tongkrongannya mulai beranjak. Namun, dalam beberapa kesempatanku bertanya pada makhluk nista lainnya di sekeliling Armand, jawaban asli pun kutemukan tentang apa yang baru dihisap oleh Armand. Ganja.
“Oh Tuhan, maafkan mulut Armand
malam ini,” gumamku dalam hati.
Kutinggalkan Armand dengan mengetuk
kepalanya dahulu sebelum aku beranjak dari situ. Di sekeliling, masih banyak
kenistaan lain yang kudapatkan. Mulai dari transaksi barang haram, para pria
dengan tangan-tangannya yang menggerogoti badan wanita malam, hingga pria yang
menyukai pria seperti yang kulihat saat ini pada temanku Ayub. Ah, tingkah Ayub
kali ini kurasa lebih menjijikkan daripada teman-temanku yang sebelumnya.
Sangat kelewat batas. Bahasa tubuh Ayub menunjukkan keemosionalan seksualnya
selama ini. Belaian tangannya, hingga goyangan tubuhnya tampak beralur mesra
dengan lelaki lainnya yang sejenis. Tak cuma itu, mereka lihai memainkan mulut
dengan irama yang garang.
Tingkah Ayub benar-benar membuatku
sangat muak malam ini. Mungkin ini puncak emosiku. Tapi entah kenapa, amarah
yang sudah sangat mengumpul di dalam diriku rasanya sangat sulit untuk
kulampiaskan di tempat ini. Tidak seperti biasanya, aku sangat gampang
mengeluarkan kata-kata kasar, memukul dinding yang ada di sekitar, hingga
menendang perabotan kayu saat tidak bisa lagi membendung amarah.
“Tempat ini aneh, bukan seperti nyata.
Bagaimana mungkin rasanya aku ingin melakukan sesuatu tapi aku tidak bisa
mewujudkannya? Rasanya tubuh ini seperti tidak bisa melakukan apa yang
pikiranku perintahkan,” lagi-lagi aku hanya bisa berkata-kata di dalam hati.
Entah apa yang sebenarnya terjadi.
Aku susah menebak. Arie, Armand, dan Ayub, mereka semua teman terdekatku.
Memang tidak semua hal-hal busuk di dalam diri mereka aku tahu, karna kami
hanya laki-laki yang sangat jarang mencurahkan isi hati satu sama lain. Kedekatan
kami hanya sebagai batas berbagi pengalaman, keriangan, canda, serta hal-hal
biasa lainnya yang dilakukan anak-anak muda di masanya. Sangat jarang aroma
cerita yang sering kami bagi adalah masalah-masalah pribadi seperti keluarga,
pacar, lingkungan bersosial, serta lainnya yang sejenis. Itulah wujud nyata
yang memang sering ada pada persahabatan anak laki-laki pada masa ini.
Terlepas dari semuanya, pelan-pelan
aku beranjak pergi dari tempat maksiat itu. Kulangkahkan kaki dengan pikiran
yang masih bergelut akan keanehan-keanehan yang terjadi antara aku dan
teman-teman terbaikku. Aku juga bingung, bagaimana mungkin kami yang selalu
bersama kali ini hanya aku seorang yang terpisah. Perjalanan pulangku sangat
dipenuhi misteri yang semoga tak urung menjadi abadi.
Keanehan kembali terjadi dalam
kepulanganku. Seketika, cahaya dalam perjalanan yang tadinya agak gelap, kini
menjadi terang. Sangat terang. Aku yang tadinya berada dalam posisi berdiri dan
menggerakkan kaki, kini hanya terbaring. Mataku terbuka pelan-pelan, dan betapa
terkejutnya hatiku saat yang kuperhatikan di sekitar hanyalah hiasan dinding
yang dipenuhi poster-poster pemain sepakbola mancanegara dan musisi dunia. Ah,
terkutuklah aku. Apa yang kulihat tadi semu, tidak nyata dan benar. Yang
kualami tadi hanya bunga penghias tidur seorang manusia pada umumnya. Namun,
anggapan penghias kali ini tidak mudah untuk kuterima begitu saja. Untuk cerita
tadi, sangat cocok untuk kuberi judul “Bunga Bangkai Perusak Tidur”.
Hahahahahaa!
Ini hari pertamaku di perkuliahan
setelah libur panjang akhir semester. Ah, tak sabar rasanya aku ingin bertemu teman-teman
kampus setelah hampir dua bulan lamanya kami ditelan rindu. Segera dan
bergegas, aku mempersiapkan diri untuk menuju ke kampus dan melupakan mimpi
tadi.
Setibanya di sana, langsung saja aku
bertemu dengan keempat teman-teman terbaikku tadi. Kami saling melepas rindu,
bercerita, tertawa. Deretan kursi di belakang kelas yang jadi saksinya.
“Woi!”, kata Ayub. “Aku mimpi aneh
tadi pagi. Aneh sekali pokoknya.”
“Udah, langsung ceritakan. Aku juga
punya mimpi aneh tadi,” Arie membalas.
Seketika juga aku dan Armand saling
bergantian mengatakan bahwa kami punya mimpi aneh. Memang persahabatan kami
kali ini terasa. Satu untuk semua, semua untuk satu.
Ayub memulai, “Tadi malam aku mimpi
berada di sebuah klub malam. Dan yang lebih anehnya, aku jadi penyuka sesama jenis,
alias homo. Aku bermesraan dengan seorang pria, berciuman, dan sampai ke tahap
yang lebih intim lagi. Entah kenapa aku bisa mendapatkan mimpi yang semacam
itu. Mengerikan.”
Tanpa ada seorang pun yang menanggapi,
Arie langsung saja membalas. “Aku juga tadi bermimpi di klub
malam. Tapi yang kulakukan bukan ber-homo ria seperti kau, Yub! Kali ini lebih professional.
Aku menenggak bir “Topi Miring” hingga satu botol. Entah apa yang buat aku kuat
meminumnnya, padahal biasanya segelas saja kepalaku seperti sudah mau pecah,” Arie
mengakhiri ceritanya.
“Profesional dari mana, Blekok?”,
Armand menyahut. “Asal kalian tahu saja, mimpiku juga sama tempatnya seperti
yang kalian bilang barusan. Tapi ulahku kali ini aneh, aku menghisap ganja.
Mungkin karna rindu kampung halamanku yang di Aceh, makanya aku bisa bermimpi
seperti itu. Hahahahaa!”
Entah apa yang terjadi. Semua yang
mereka katakan kembali merusak pola pikir ini. Dan mimpi mereka bisa sama
persis dengan penglihatanku di mimpi tadi malam juga. Harapan kecil di hatiku
timbul, semoga mimpi kali ini bukanlah pertanda buruk di kehidupan nyata kami.
Semoga saja itu hanya terbatas di alam ketidaksadaran kami, tanpa sedikitpun
merusak alam kesadaran kami yang kali ini tidak semu. Mungkin karna aku terlalu
merasakan kedalaman arti persahabatan, aku bisa melihat mimpi dari
teman-temanku katakan. Memang kebersamaan kami selama ini sangat berarti. Tanpa
memandang perbedaan asal, suku, maupun agama, kami bisa merasakan kebersamaan
pertemanan yang tiada bandingnya.
“Mimpimu apa?”, seru Armand
kepadaku.
Ucapanku sambil memangku senyum, “Aku
melihat kalian semua.”
Pembicaraan kami terhenti. Dosen
memasuki kelas. Seketika kami membubarkan diri, pun begitu dengan teman-teman
sekelas lainnya yang dari tadi duduk tidak beraturan demi memuaskan keinginan
berbagi pengalaman selama masa liburan.
Mengenang Dalamnya Arti Persahabatan
Medan, 19 Januari 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar